Dynamic Learning, Sociopreneur Indonesia Mendunia

Dynamic Learning Indonesia. Foto/SINDOnews/Andik Sismanto

SINDONEWS, SEMARANG – Sociopreneur adalah sebuah usaha berbasis kegiatan sosial. Hadirnya konsep bisnis sociopreneur tentu menjadi solusi efektif untuk membantu mengentaskan permasalahan sosial dan ekonomi di Indonesia.

Salah satu contoh sociopreneur terbaik bangsa adalah Dynamic Learning Indonesia. Sociopreneur tersebut ialah sebuah startup berbasis pendidikan karakter berupa keimanan, nasionalisme, teknologi, motivasi, dan kewirausahaan yang memberdayakan ibu dan anak jalanan, anak putus sekolah, serta mantan penyalahguna narkoba.

Baru-baru ini, Dynamic Learning yang telah didirikan selama dua tahun serta berkiprah di Kota Semarang dan Yogyakarta ini, berhasil menjuarai kompetisi ASEAN Startup Accelerator 2017 di Kaplan University, Singapura. 

Tim Dynamic Learning yang berangkat ke Singapura terdiri dari Dewi Nur Cahyaningsih (22) asal Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro, Sandy Dwi Laksono (22) asal Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Norfa Bagas Nurhuda (21) asal Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, Muhammad Arifuddin (23) asal Fakultas Ilmu Budaya, dan Andy Aulia Prahardika (22) asal Teknik Industri Universitas Gadjah Mada.

Kompetisi ide bisnis yang diselenggarakan pada tanggal 10-12 Juli 2017 tersebut diadakan oleh Indonesia Youth Academy yang bekerja sama dengan Kaplan University, National University of Singapore (NUS) Enterprise, Singtel, dan 12 investor, CEO serta CTO dari berbagai perusahaan di Singapura, seperti: The Leza Parker Networks, Markedshot, Golden Gates Ventures, Vanitee, RingMD, DSTNC, Niswara, EDGE, iFashion Group, Reactor Industries, Soezlar Technology, PSLove Company).

Dalam kompetisi tersebut, 67 finalis berlomba mempresentasikan ide bisnis untuk ‘memikat’ investor agar mendanai ide bisnis para finalis. Presentasi di depan investor ini disebut juga dengan istilah pitching. Selain itu, para finalis juga mendapat bekal ilmu berupa workshop seputar bisnis dan manajemen dari para CEO asal Singapura.

Sociopreneur Dynamic Learning Indonesia diumumkan menjuarai kompetisi pitching tersebut dengan gelar BEST PITCHING dan berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah ASEAN.

Atas prestasinya tersebut, mereka mendapat hadiah 100 SGD dan 100 SGD scholarship program di Kuala Lumpur, Malaysia. Tak hanya itu, Dynamic Learning Indonesia juga akan mendapat investasi dari beberapa perusahaan asal Singapura atas prestasinya sebagai best pitching dalam ajang tersebut.

Dewi selaku Founder dan CEO Dynamic Learning Indonesia mengatakan, tujuan utama Dynamic Learning adalah untuk meningkatkan perekonomian dan kelas sosial masyarakat yang diberdayakan. “Untuk itu, selain diajarkan tentang pendidikan karakter, diajarkan pula untuk memproduksi dan memasarkan berbagai jenis kue kering dan barang-barang kerajinan melalui online marketplace yakni website dynamiclearningid.org, juga di berbagai sosial media,” ujarnya dalam keterangan yang diterima SINDOnews, Senin (24/7/2017).

Award ini lanjutnya, dipersembahkan kepada seluruh partisipan, volunteer, dan para pendukung Dynamic Learning Indonesia, karena tanpa kerja, dukungan dan doa dari mereka semua, prestasi ini tidak akan tercapai.

“Selamat untuk segenap keluarga besar Dynamic Learning Indonesia, ini adalah awal bagi kita untuk bisa memberikan kontribusi lebih besar bagi kemajuan bangsa Indonesia,” katanya.

Dewi mengaku, progam Dynamic Learning untuk meningkatkan kelas sosial masyarakat yang terpinggirkan. Caranya, dengan memberikan pendidikan karakter anak mengenai nilai agama, pengenalan pola perilaku hidup sehat, pengetahuan umum. Selain itu juga memberikan pemahaman kepada orangtua untuk peduli terhadap perkembangan anak dan tidak dieksploitasi untuk turun ke jalan.

Program Dynamic Learning memiliki tahapan-tahapan, yaitu tahap sosialisasi, tahap pelaksanaan, dan tahap monitoring serta evalusi. “Kegiatan yang sudah berjalan beberapa dua tahun terakhir mulai memberikan hasil. Prosentase anak-anak yang turun ke jalan mulai berkurang. Orangtua pun merasa senang ketika kami bantu membuat usaha hingga produk yang dihasilkan dijual dipasaran,” katanya.

(ven)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *